Agen Poker Terpercaya

Agen Poker Terpercaya – Buruknya Piala Dunia 1990 Jadi Awal Revolusi Sepakbola Dunia

Agen Poker Terpercaya –┬áPiala Dunia 1990 disebut-sebut jadi Piala Dunia terburuk selama histori. Tetapi, dari situlah revolusi sepakbola dunia diawali. Turnamen yang diselenggarakan tiap-tiap empat th. itu sering mengundang perhatian orang-orang dunia. Popularitasnya bahkan juga menaklukkan Olimpiade yang mempertemukan sekitaran 200 kontingen negara didunia.

Tetapi, seperti hal yang lain, ada yang paling baik serta yang terburuk. Piala Dunia juga sekian. Walau turnamen ini senantiasa mendatangkan bintang kelas dunia serta menanggung surprise, seringkali juga memberi narasi kurang mengasyikkan. Umpamanya insiden tandukan Zinedine Zidane pada Marco Materazzi yang berbuntut kartu merah pada pertandingan final Piala Dunia 2006 kemarin. Insiden itu sekalian jadi pemberi tanda akhir karirnya.

Bila Piala Dunia 2006 tersisa narasi perselisihan pada Zinedine Zidane dengan Marco Materazzi, jadi beda perihal dengan Piala Dunia 1990. Di gelar di Italia, Piala Dunia ini dikenang jadi yang terburuk selama histori. Hal semacam ini ada hubungannya dengan catenaccio ala Italia.

Piala Dunia 1990 cuma mencatatkan 115 gol selama turnamen atau rataan 2, 21 gol di tiap-tiap kompetisi. Rataan gol itu adalah yang paling rendah selama histori Piala Dunia. Minim gol di fase group, dua kompetisi semi final yang berlanjut ke sesi penalti jadi sorotan ramainya taktik negatif yang dipakai negara peserta. Puncaknya, berlangsung pada pertandingan final Piala Dunia 1990 yang mempertemukan Jerman Barat (saat ini Jerman) serta Argentina.

Pertandingan Final yang Negatif

Jerman serta Argentina mempunyai histori panjang dalam persaingan perebutan mereka di sepakbola dunia. Karena itu, pertandingan ini dijagokan dapat jadi penutup prima untuk Piala Dunia 1990. Tetapi, harapan pemirsa tidak tercukupi. Pertandingan itu selesai untuk kemenangan Jerman Barat atas Argentina dengan score 1-0. Walau sekian, kompetisi ini terdaftar jadi final terburuk di Piala Dunia. Bukanlah hujan gol yang mereka saksikan, namun hujan pelanggaran serta kartu. Diluar itu, Argentina juga mengaplikasikan taktik negatif pada pertandingan ini. Mereka terdaftar cuma lakukan sekali tembakan. Sedang Jerman melepas 16 tembakan pas tujuan dari 23 tembakan.

Gol dari titik putih Andreas Brehme menit ke-85 jadi pembeda. Tetapi, sistem menuju gol itu diwarnai beragam pelanggaran kontroversial. Argentina sendiri mesti kehilangan dua pemainnya pada pertandingan ini. Pedro Monzon jadi pemain pertama selama histori Piala Dunia yang dikartu merah di final. Taktik negatif yang diaplikasikan Argentina juga membuat mereka jadi negara pertama yang tidak cetak gol di final Piala Dunia.

Argentina pada akhirnya mesti gigit jari di sesi final. Taktik negatif yang diaplikasikan untuk memaksakan adu penalti tidak berhasil keseluruhan. Mereka juga kehilangan dua pemain pada pertandingan ini. Argentina juga kecolongan lewat penalti kontroversial Jerman yang dicapai sesudah Rudi Voller dilanggar oleh Roberto Sensini. Selesai kompetisi, sang wasit, Edgardo Codesal (Meksiko) diincar beberapa pemain Argentina karna berasumsi dianya ‘membantu’ Jerman menang. Mereka protes ketentuan penalti untuk Jerman. Walau sekian, wasit tetaplah bergeming serta hasil tetaplah tunjukkan Jerman memenangkan Piala Dunia untuk ke-3 kalinya.

Franz Beckenbauer yang melatih Jerman Barat waktu itu berhasil mencatatkan rekor jadi pelatih serta pemain ke-2 yang memenangkan Piala Dunia (dengan Mario Zagallo). Lebih khusus karna Beckenbauer adalah hanya satu pemain yang memenangi Piala Dunia waktu menjabat jadi kapten untuk negaranya.

Beckenbauer waktu itu menyayangkan permainan negatif Argentina yang menurut dia jadi argumen timnya kesusahan cetak gol walau begitu menguasai. ” Kami mungkin selalu bermain sabar. Kami paling tidak dapat cetak gol selama kompetisi itu. Tetapi, kami bermain penuh 90 menit serta saya menyayangkan Argentina tidak memberi kami apa-apa perlawanan. Itu merasa seperti bukanlah kompetisi resmi. Mereka coba menghancurkan kompetisi ini. Namun Anda tidak dapat pilih lawan Anda, ” katanya ditulis The New York Times.

Perubahan Mencolok serta Masalah Diving

Piala Dunia 1990 membuat FIFA lakukan beberapa perubahan basic untuk kwalitas kompetisi sepakbola yang tambah baik. Satu diantaranya dengan merubah jumlah point kemenangan jadi tiga point (dari dua point). Hal semacam ini punya maksud untuk menaikkan semangat persaingan perebutan antar negara yang berlaga dalam merebut point penuh. Diluar itu, FIFA juga mengaplikasikan ketentuan backpass untuk hindari trick penghabisan saat serta mencegah sepakbola negatif. Pada Piala Dunia itu, banyak tim berniat terlalu lama mengatur bola bila mereka alami kesusahan menyerang lawan, satu diantaranya Argentina. Akhirnya, pengembalian bola ke penjaga gawang jadi jalan keluar mereka.

Kompetisi juga jalan menjemukan karna mereka pilih ‘main aman’. Ketentuan back pass berlaku bila penjaga gawang terima bola memakai tangan hasil sepakan yang disengaja dari partnernya tanpa ada dikendalikan lebih dulu atau segera terima lemparan kedalam dari partnernya ; serupa seperti sepakan. Taktik negatif yang lain yang diketemukan yaitu jatuh dengan berniat (diving). Taktik ini seringkali diketemukan waktu Piala Dunia 1990. Taktik ini rupanya ikut dipakai oleh tim pemenang, Jerman. Satu diantara pemainnya, Juergen Klinsmann, jadi aktor penyebabnya diusirnya Pedro Monzon waktu itu.

Ditulis The Guardian, Klinsmann berniat melompat sembari melengkungkan punggungnya serta meringis kesakitan walau tekel Monzon tidak tentang dianya. Monzon juga segera terima kartu merah karna ‘tekel hantunya’ itu. Sampai saat ini, diving masih tetap jadi trick andalan tiap-tiap pemain untuk mengelabui lawannya serta ambil keuntungan permainan (contoh sepakan bebas atau penalti). Di banding gol ‘Tangan Tuhan’ Maradona pada 1986, diving jadi hal umum terlebih bila timnya tengah di tempat tidak unggul. Di level internasional atau club, trick ini sering dipertunjukkan beberapa pemain.

Diving sering dipandang mencederai sportivitas sepakbola. Meskipun demikian, diving juga tidak gampang dikerjakan karna perlu perhitungan untuk mengerjakannya supaya tidak diliat dengan kasat mata oleh wasit maupun hakim garis. Sesungguhnya, terdapat banyak beberapa aksi yang punya potensi jadi trick negatif seperti ganti pemain waktu menit akhir, penjaga gawang sedikit maju dari garis gawang waktu penalti, sampai menendang kaki lawan sembari mengangkat tangan supaya tampak tidak bersalah. Walau sekian, untuk beberapa orang, beberapa trick negatif dalam sepakbola telah jadi sisi dari sepakbola tersebut serta tidak dapat dipisahkan.

***

Piala Dunia 1990 memberi pelajaran kalau sepakbola selanjutnya mengenai menang serta kalah. Tetapi, waktu itu mungkin saja mereka salah kaprah atau kebablasan dalam lakukan trick negatif untuk mencetak kemenangan. Atau, mungkin arti ” apa pun langkahnya, apa pun resikonya ” juga salah ditafsirkan oleh mereka.

Masalah beberapa trick negatif yang dipakai di sepakbola pasti akan mengundang perbincangan. Umpamanya saat mereka membahas gigitan Luis Suarez pada Giorgio Chiellini di Piala Dunia 2014. Mereka akan memperdebatkan seberapa besar hukuman yang semestinya didapat. Yang sepakat mungkin saja akan berkomentar, ” dia semestinya dihukum 10 kompetisi atau lebih “. Sesaat yang kontra mungkin saja menjawab, ” Kenapa hukuman gigitan lebih berat dari diving? ”

Yang tentu, apa pun aksi yang dipandang negatif serta mengakibatkan kerusakan jalannya permainan tidak dibenarkan tetapi juga tidak dilarang ; asal tidak ketahuan, Dikutip Agen Poker Terpercaya.